Mewaspadai ‘Remaja’ dan ‘Anak Muda’

Posted on

Ih….., judulnya serem.
Yang merasa remaja atau anak muda sewot. Apa maksudnya nih…..
Tenang baca dulu. Baru tulis komentar atau ngasih jempol

Masa remaja diartikan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Istilah ini menjadikan ia seolah-olah serba nanggung. Sudah tidak pantas lagi disebut anak-anak tapi belum layak disebut diwasa. Dalam kehidupan keseharian jarang diikutkan dalam kegiatan-kegiatan orang tua atau dewasa.

Menurut apa yang pernah saya pelajari (dari sudut pandang ilmu psikologi barat saat ini) dikatakan masa transisi ditandai dengan ketidakstabilan secara emosional dari remaja, sehingga memunculkan banyak masalah dan kenakalan remaja.

Nah saya justru berpandangan (boleh tidak sepakat), istilah kenakalan remaja yang lebih difamiliarkan daripada kenakalan orang dewasa atau bahkan kenakalan manula ini akan memunculkan stigma bahwa remaja itu boleh nakal, nakal itu biasa, bermasalah itu tidak apa-apa.

Termasuk istilah anak muda. Semisal ada anak-anak sma yang kerjaannya nongkrong, merokok, pulangnya malam. Kalau ditanya, “Tiap hari kok kerjaannya seperti itu?” Jawabannya, “Ga tau aja anak muda, Om.”

Konsep tumbuh kembang dalam Islam, kalau menurut saya lebih baik dibandingkan dengan konsep di atas. Di dalam islam tidak dikenal istilah ‘remaja’, yang dikenal adalah masa anak-anak, baligh, dan dewasa. Baligh itu adalah batas seseorang sudah harus dikenai kewajiban agama. Dalam perintah shalat, seorang muslim yang sudah baligh dikatakan berdosa jika tidak melakukan shalat. Dia sudah boleh mulai menjadi imam dalam shalat. Hak dan kewajibannya mengarah seperti orang dewasa dengan orang-orang tua. Dengan kemampuannya mereka sudah boleh berkiprah menjadi apapun seperti orang dewasa.

Saya ambil contoh lagi (jangan bosen) di zaman Rasulullah, ada seorang (remaja -red) usianya18 tahun tapi ditunjuk oleh Nabi SAW untuk memimpin pasukan perang dalam melawan Romawi. Perang antar negara, perang antar peradaban. Coba bayangkan umur 18 tahun, itu kalau sekarang kira-kira anak kelas 12 SMA atau baru lulus. Adakah anak lulusan SMA saat ini memiliki kemampuan layaknya negarawan? Alih-alih memikirkan negara, mereka ‘terpenjara’ pada ‘keremajaan’ mereka, bahwa masa ini adalah masanya senda gurau, nongkrong, bersenang-senang, atau memikirkan menjalin hubungan tanpa ikatan. Seolah-olah dunia akan runtuh jika tak memiliki pasangan atau masih berstatus jomblo. Seperti istilah, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Iya, kalau surganya punya engkong lu!

Menulis dengan mulut, pada 15 Januari 2017

Pingin bisa menulis dengan mulut?
Join Grup WA Menemu Baling (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga)
http://goo.gl/wxE2xv
Join Grup Telegram Menemu Baling (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga)
https://t.me/joinchat/AAAAAAb7E42H3iZTzjzxVg
Join Grup Line Menemu Baling Remaja (Menulis dengan mulut, Membaca dengan telinga untuk remaja)
http://line.me/R/ti/g/BBMHES47Vw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *