(Belajar) Menyenangkan

Posted on

Menyenangkan orang itu berpahala. Senyum saja dinilai ini pahala oleh Tuhan apalagi berbuat kebajikan lebih berat lainnya. Tapi jangan berharap semua kebaikan yang kita lakukan itu membuat orang lain merasa senang terhadap kita. Kita berniat baik ada yang menilai pamrih. Kita berbuat baik ada mengatakan cari muka.
Maka tugas kita adalah bukan untuk menyenangkan orang lain. Bukan pula untuk memuaskan. Karena kita bukan sebagai alat untuk penyenang dan pemuas. Tugas kita sekedar berbuat baik, benar, dan nguwongke (memanusiakan).

Di sekolah saja kadang siswa salah memaknai tentang rasa senang ini. Mereka sering menganggap guru menyenangkan adalah guru yang membiarkan siswa bermain hp saat pelajaran, membiarkan saling contoh dan contek saat ulangan. Boleh guyon, gojekan (bercandaan –red), bahkan tidur (an) saat pembelajaran.
Mereka seringkali membenci guru yang pada saat ujian bersikap ketat dan tidak membiarkan saling contoh. Mereka tidak menyukai guru yang ‘riwil’ mengingatkan baju harus dimasukkan, rambut harus rapi, celana tidak pensil, atribut harus lengkap, tidak buang sampah sembarangan dan sebagainya.

Jika kita hanya mengikuti kesenangan yang dimaksud siswa, justru boleh jadi kita secara tidak sadar meracuni mereka. Kita mengebiri kemandirian mereka. Kita menurunkan rasa percaya dirinya. Menghilangkan makna sportivitas, dan memupuskan nilai kerja keras mereka. Itulah kenapa tidak semua yang menyenangkan diperbolehkan, seperti dalam lagunya Bang H. Rhoma Irama:
Kenapa semua yang enak-enak itu diharamkan
Kenapa semua yang asyik-asyik itu yang dilarang

Dalam pembelajaran, dikatakan belajar menyenangkan menurut (disarikan dari) prinsip Quantum Teaching adalah belajar yang:

Membawa dunia siswa ke dunianya (guru) dan mengantarkan dunia guru ke dunia siswa.
Bagaimana guru bisa memahami karakteristik masing-masing siswa, menyelami dan masuk ke dunia mereka, baru menyampaikan konten materi untuk diantarkan ke siswa.

Semuanya berbicara
Semua ikut ambil bagian dan berperan serta dalam pelajaran. Semua memberikan pesan tentang belajar.

Belajar dengan tujuan
Semua yang terjadi dalam pembelajaran harus mempunyai makna. Harus bertujuan. Bukan asal ketemu, asal masuk, presensi, asal tidak kosong, selesai.

Memperhatikan pengalaman
Belajar harus memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya kepada siswa. Merangsang rasa ingin tahu untuk menggerakkan tindakan mereka.

Mengakui setiap usaha
Menghargai usah apapun yang dilakukan oleh siswa, meskipun salah. Belajar itu tidak harus benar. Boleh salah, asal tahu kesalahannya kemudian mencari dan menemukan yang benar. Akui usaha dan kecakapan mereka, agar mereka lebih percaya diri terhadap kemampuannya.

Merayakan
Merayakan keberhasilan pembelajaran bisa dilakukan secara sederhana, misalnya dengan tepuk tangan, pemberian sanjungan, penghargaan. Atau sekedar bilang, “Kalian….. Luar biasa!

Sebagai penutup, mari kita mengusahakan menyenangkan dengan berprinsip pada kebaikan dan kebenaran. Penerimaan bagi si penerima kita serahkan kepada mereka, In sya Allah jika gelombang kebaikan yang kita tebar, Tuhan, melalui alam semesta akan membalasnya dengan sempurna. Famayya’mal mistkola darotin khoira yarroh, wamayya’mal miskola darotin syaroyaroh

Mustahib, S.Pd.Si

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *